Langsung ke konten utama

Resensi Buku "Guru Sejati; Hasyim Asyari"


KH Hasyim Asy’ari dan Tebuireng Awal
(Senin, 13/07/2015 12:10)

Pemilihan lokasi Muktamar NU di Jombang 1-5 Agustus pada 2015 nanti patut diapresiasi. Sebagai “ibu kota” NU, Jombang melahirkan banyak tokoh NU. Mulai Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari, Mbah Wahab Hasbullah, Mbah Bisri Syansuri, Gus Wahid Hasyim sampai presiden RI ke-4 Gus Dur. 

Jumlah ini belum ditambah dengan banyak aktivis NU yang sudah almarhum maupun yang sekarang masih ber-khidmat. Baik kepada NU secara langsung ataupun lewat banom, lajnah, lembaga dan organisasi underbow.

Namun yang paling menarik adalah sosok Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari. Kiai kharismatik yang akrab dipanggil dengan Mbah Hasyim ini adalah sosok pejuang tangguh dengan masa yang sangat berliku. Rintangan yang dihadapi juga tidak kecil. Mulai saat masih menuntut ilmu sampai wafat 1947 karena memikirkan nasib umat.  
Dunia Hitam

Nama besar Pesantren Tebuireng sekarang tidak lepas dari sosok Mbah Hasyim. Terlebih sejak jenasah Gus Dur dimakamkan di situ. Setidaknya dua ribu peziarah setiap hari mengunjungi makam presiden RI keempat itu. Tentu ini menjadikan Pesantren Tebuireng sebagai pondok pesantren “tersibuk” di Indonesia. Apalagi yang berkunjung tidak hanya dari kalangan orang Islam. Tapi juga komunitas non-Muslim. Bahkan dari luar negeri.   

Semua penulis sepakat bahwa dusun Tebuireng, sebelum pendirian pesantren, awalnya adalah pusat kemaksiatan di abad XIX Masehi. Ini sebagai akibat negatif dari pendirian Pabrik Gula Tjoekir oleh Belanda. Baik dalam bentuk perjudian, perampokan, prostitusi, minuman keras, pencurian, dan sebagainya. Ini yang dalam teori sosiologi disebut sebagai culture shock. 

Namun beberapa penulis berbeda pendapat tentang asal usul nama Tebuireng. Setidaknya terdapat empat pendapat. Pertama, nama Tebuireng berasal dari nama Kebo Ireng. Dia seorang pimpinan pasukan kerajaan Majapahit yang meninggal dunia di daerah itu.

Sosok ini menjadi justifikasi bagi para ahli maksiat di sekitar Tebuireng. Bahkan Wiro, pimpinan kelompok ini, mengaku didatangi Kebo Ireng dalam rupa ghaib sebelum bertanding dan dikalahkan oleh Abdullah (hlm. 236). Pendapat pertama ini juga didukung Aguk Irawan dalam Penakluk Badai: Novel Biografi KH Hasyim Asy’ari (2012).

Kedua, menyatakan bahwa nama Tebuireng berasal dari kata kebo (kerbau) dan ireng (hitam). Kata Tebuireng merujuk kepada kebo bule yang terperosok ke dalam kubangan besar, penuh dengan lintah penghisap darah. Karena terlalu banyak darah yang dihisap lintah, maka warna kulitnya berubah menjadi hitam (ireng). Sejak saat itu daerah tersebut bernama kebo ireng yang akhirnya lambat laun berubah menjadi Tebuireng. 

Pendapat kedua ini paling populer di kalangan masyarakat dan para penulis. Pendapat ini ditulis dalam buku Akarhanaf berjudul Kiai Hasjim Asj’ari; Bapak Umat Islam Indonesia (1950), buku karya Solichin Salam berjudul KH. Hasyim Asy’ari; Ulama Besar Indonesia (1963) dan buku Aboebakar Atjeh berjudul Sedjarah Hidup KH. A. Wahid Hasjim dan Karangan Tersiar (1957).

Ketiga, memiliki kemiripan dengan pendapat kedua. Hanya kerbau yang dimaksud adalah milik Mbah Hasyim. Sebelum kejadian itu, daerah tersebut belum memiliki nama. Jadi, menurut pendapat ini, insiden kerbau masuk ke kubangan besar itu terjadi setelah Mbah Hasyim mendirikan pesantren. Itulah cikal bakal nama Tebuireng. 

Keempat adalah pendapat yang tidak begitu populer di telinga masyarakat. Pendapat ini menyatakan bahwa nama Tebuireng berasal dari banyaknya tanaman tebu yang tumbuh di daerah Cukir. Kulit tebu ini berwarna hitam, yang bahasa Jawa disebut dengan ireng. 

Tebu varietas ini memiliki kadar gula lebih tinggi daripada varietas lainnya. Sehingga hasil produksi pengolahan tebu menjadi gula lebih meningkat jika dibandingkan menggiling varietas tebu lainnya. Ini yang mendorong pendirian sebuah pabrik gula baru di daerah selatan Jombang bernama NV. Koldy en Coster van Housf Suiker Fabric. 

Karena pengucapan penduduk lokal yang sulit, nama perusahaan itu lebih terkenal dengan sebutan Pabrik Cukir. Pendapat keempat ini disampaikan Abdul Basit Adnan dalam buku Kemelut di NU (1982).

Klarifikasi Ulang

Pendapat terakhir memiliki kedekatan dengan titik kebenaran. Dalam buku Guru Sejati Hasyim Asy’ari ini, Masyamsul Huda juga lebih mempercayai pendapat keempat (hlm. 259). Meski penulis menyebut Mbah Hasyim melakukannya pada tanggal 6 Pebruari 1906. Padahal, semua penulis biografi Mbah Hasyim merujuk bahwa tanggal itu adalah pengakuan Belanda kepada Pesantren Tebuireng sebagai badan hukum yang sah.  

Terdapat beberapa hal yang harus diklarifikasi ulang dari buku ini. Sebagai novel sejarah, sumber kutipan seharusnya valid dari sumber aslinya. Tidak sekedar disebut dalam daftar pustaka (hlm. 269).

Penyebutan “nama asli” Pesantren Tebuireng juga kurang proporsional. Salafiyah Syafi’iyah, seharusnya dikutip secara jelas untuk menyebut pesantren yang didirikan Mbah Hasyim pada 1899 itu. Ini mengingat nama Salafiah Syafi’yah sudah menjadi trade mark pesantren saat itu.  

Verifikasi selanjutnya yang perlu ditanyakan adalah pendirian PG Tjoekir yang di buku ini disebut 1884. Mengingat semua referensi yang ada selama ini merujuk angka 1825 sebagai pendirian PG Tjoekir (hlm. 17). 

Penyerangan tentara Belanda yang dipimpin de Kock untuk menangkap Mbah Hasyim juga perlu diverifikasi ulang (hlm. 261). Ini karena di beberapa maraji’ disebut bahwa penyerangan itu dilakukan Belanda pada tahun 1932. Serangan ini yang menyebabkan Mbah Hasyim “terpaksa diungsikan” ke Pesantren Keras. 

Di atas itu semua, usaha Masyamsul Huda untuk “menulis” berbagai cerita rakyat patut diapresiasi. Selama ini cerita rakyat hanya dituturkan dari mulut ke mulut. Dari satu generasi ke generasi selanjutnya. Dengan ditulis, cerita rakyat itu akan “tetap hidup” meski sang penutur sudah meninggal dunia.* 

Data Buku

Judul : Guru Sejati Hasyim Asy’ari 
Penulis : Masyamsul Huda
Penerbit : Pustaka Inspira, Jakarta
Tahun : Maret 2014
Cetakan : Pertama 
Tebal : 271 halaman
ISBN : 978-602-97066-6-6
Harga : Rp 45.000,-
Peresensi : Mukani, alumni Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Seblak dan guru SMAN 1 Jombang

Sumber nu online

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Membuat Kohor / Cohort di Moodle untuk Mempermudah Pengeloaan User

  Membuat Kohor / Cohort Klik Administrasi situs > Pengguna > Akun > Kohor > Tambah kohor baru Ketik nama kohor. Contoh “ kelas 9” Geser ke bawah dan klik tombol simpan perubahan Untuk menambahkan user ke dalam kohor, Klik ikon gambar orang-orang Pilih peserta dan klik tomboh tambahkan Klik tombol  Kembali ke Kohor  dan pastikan isi kohor sudah sesuai dengan jumlah peserta yang kita tambahkan

Aplikasi Rekam Layar dan Kamera Sekaligus

Awal bulan Juli 2024, saya tertarik untuk mengikuti sebuah tantangan di Instagram. Tantangannya adalah membacakan cerita anak selama 8 hari. Pembacaan cerita secara nyaring ini diminta untuk direkam dan diunggah di Instagram. Maka saya pun kembali utak-utek Instagram dan aplikasi-aplikasi perekam dan multimedia. Semula saya menggunakan laptop beserta webcam-nya. Pertama kami unduh buku ceritanya agar lebih lancar saat dibaca (tanpa loading). Setelah nyoba aplikasi perekam yang sudah terpasang di laptop akhirnya saya putuskan untuk menggunakan perekam video online. Saya menggunakan https://webcamera.io/id/ dan mengunduh hasilnya. Karena hasilnya masih berupa file .webm maka saya ubah menjadi file .mp4 dengan aplikasi VLC Media Player. Ohya laptop yang saya pakai bersistem operasi Ubuntu. Semula saya ingin mengedit video tersebut dengan aplikasi kdenlive yang sudah terpasang di mini pc. Maka saya kirim file video tersebut lewat Google Foto. Tapi saya tidak jadi mengedit dan langsung meng...

Cara Cepat Input Data di LibreOffice Calc

Memasukkan, mengetik, menginput atau mengentry data kadang terasa menjemukan dan melelahkan. Untuk meringankan beban pekerjaan input data, libreoffice Calc menyediakan beberapa tool atau alat. 1. AutoInput Tool Tool ini biasanya sudah aktif. Bila belum aktif, Anda dapat mengaktifkannya dengan klik menu Tools > pastikan AutoInput tercentang. AutoInput akan mengingat dan merekam data yang sudah pernah kita masukkan. AutoInput akan secara otomatis melengkapi huruf atau karakter yang kita ketik sesuai dengan data yang sudah ada pada sel lain dalam kolom yang sama. Misalnya kita pada saat memasukan data alamat, biasanya kita menemukan beberapa orang mempunyai alamat yang sama. Bila sudah ada data 'Jawa Barat' pada kolom alamat maka ketika kita mengetik huruf 'J', secara otomatis dilengkapi menjadi 'Jawa Barat'. Bila setuju, tekan enter atau F2 atau klik mouse. Bila ternyata kita ingin mengetik 'Jawa Tengah', ketik huruf 'J' kemudian t...