)
Tadarus: Barat dan Timur dalam Al Quran
Memasuki awal-awal juz 2, tadarus kemudian agak melambat ketika membaca ayat-ayat berkenaan dengan arah kiblat. Juga tentang timur dan barat. Ingatan saya melompat ke beberapa minggu lalu, ketika saya bertanya kepada kakak saya: mengapa dalam Al Quran tidak dikenal istilah utara dan selatan.
Kakak saya menjawab, mungkin saat itu utara dan selatan tidak terlalu penting. Pertanyaan pun bersambung, bukankah saat itu kedudukan negeri Yaman di arah selatan Makah ataupun Madinah sangat penting. Juga kedudukan negeri Syam di arah utara. Sampai-sampai saya bayangkan, jika saat itu seseorang ditanya di mana negeri Syam, maka orang itu akan menjawab dan menunjuk arah utara yang menunjuk posisi geografis wilayah Syam.
Belum puas, saya pun bertanya kepada seorang ustad dengan pertanyaan yang sama, dengan tambahan adakah kitab atau ulama yang pernah membahasnya. Dijawab oleh beliau: jawabannya ada di surat Al Anbiya ayat 23. Saya buka Al Quran, dan saya bunyikan terjemahannya di sini: "Dia tidak ditanya tentang apa yang diperbuat-Nya dan merekalah yang akan ditanyai.
Waduh. Rupanya kalimat pertanyaan saya tidak tepat. Dikira saya menanyakan hal-hal terkait dengan dzat Allah. Kemudian saya katakan, tidak berani saya. Bisa kuwalat. Maka saya perjelas pertanyaan saya dengan mengatakan, pasti ada hikmah atau rahasia besar di balik pengungkapan istilah-istilah ini.
Kemudian sang ustad menjawab bahwa saat itu dikenal istilah yaman dan syimal. Yaman menunjuk negeri Yaman (yang ada di sebelah kanan) dan syimal menunjuk negeri Syam (yang ada di sebelah kiri), dengan asumsi orang yang ditanya sedang menghadap ke timur. Dikatakan pula, bahwa beliau menemukan kitab atau ulama yang membahas tentang itu, meskipun belum tentu tidak ada ulama yang pernah membahasnya.
Dalam beberapa hari pikiran saya bergelut dengan soal itu. Saya mencoba mengingat pelajaran ilmu bumi. Dari situ saya memperoleh simpul-simpul hikmah. Saya meyakini pasti itu bukan jawaban atas pertanyaan saya. Tapi saya menganggap itu sebagai pengetahuan terkait yang dapat menjadi renungan.
Pertama, konsep arah mata angin yang kita kenal selama ini bersifat sangat relatif. "Kepunyaan Allahlah timur dan barat," demikian Al Quran berkata. Sesungguhnya yang kita sebut barat kalau diteruskan juga akan menjadi bagian timur dari posisi kita. Demikian pula sebaliknya. Sebagaimana ketika posisi kita ada di Indonesia, ketika ditanya di mana Amerika, kita bisa menjawab dengan menunjuk arah timur atau pun barat, yang kedua jawaban adalah benar.
Kedua, tentang utara dan selatan. Berbeda barat dan timur yang sepertinya tidak berujung pangkal, dua istilah ataupun konsep ini mengacu kepada dua titik tertentu yang beropisisi secara diametral. Relativisme yang berlaku di sini adalah, tidak dikenal arah timur dan barat ketika seseorang berdiri di kedua titik ini. Ketika seseorang berdiri tepat di titik kutub utara, segala arah baginya adalah selatan. Demikian pula sebaliknya, ketika seseorang berdiri tepat di titik kutub selatan, tidak ada arah timur dan barat kecuali segala arah adalah utara.
Ketiga, dengan posisi ujung poros bumi, kedua titik kutub memiliki temperatur yang sangat jauh di bawah suhu normal tubuh manusia. Ini membuat manusia akan menemukan kehidupan yang sulit jika bertahan di wilayah ini. Keadaan ini memberi isyarat kepada manusia untuk memilih kehidupan yang jauh dari kedua titik kutub. Yaitu ke wilayah yang di sana dikenal posisi di mana matahari terbit (timur) dan di mana matahari tenggelam (barat).
Wallahu a'lam bish shawab.
Birmingham, 07.07.15
Al Faqir Ibnu Sabil
Komentar