Tadarus: Ruang Dialog untuk Anak
Ini adalah berkah dari mendatangi majelis ilmu kemarin sore. Narasumbernya seorang ustad yang berpengalaman dalam bidang kepengasuhan (parenting, Ustad Nurul Huda dari Bekasi. Kebetulan beliau bersafari Ramadhan di UK dan Eropa sebagai undangan KBRI London.
Dari sekian poin yang dibahas, hati saya sangat tersentil oleh nukilan satu ayat dari surah Ash-Shaffat (120). Terjemahannya berbunyi begini:
"Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: "Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!" Ia menjawab: "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar".
Sang Ustad mengatakan ibrah dari ayat ini adalah adanya ruang dialog antara Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail 'alaihimussalam. Ruang dialog antara seorang bapak dan seorang anak, bahkan ketika itu menyangkut perintah Allah. Sebagai seorang nabi, Ibrahim sadar ini adalah perintah yang harus dia kerjakan. Begitupun, Nabi Ibrahim masih memberi kesempatan kepada sang putra untuk menyatakan pendapat tentang perintah Allah yang begitu berat. Dari ruang dialog ini, Nabi Khalilullah ini beroleh kemantapan hati untuk menunaikan perintah.
Dalam pikiran saya, sulit terbayang, apa jadinya jika Nabi Ismail tidak bersedia diri. Dalam hal ini, harusnya Nabi Ibrahim tidak perlu berkata apa-apa, tetapi langsung bertindak sesuai perintah. Atau sebaliknya, apa jadinya jika Nabi Ibrahim menyembunyikan perintah Allah di luar pengetahuan Ismail, padahal beliau mendapati putranya seorang yang taat dan pasti seandainya perintah itu ditunaikan.
Namun begitulah Sang Sutradara Agung mengemas peristiwa ini untuk dijadikan ibrah bagi segenap manusia. Peristiwa ini sendiri akhirnya diabadikan sebagai ibadah tahunan bagi orang-orang yang beriman.
Secara pribadi, peristiwa ini menuntun saya untuk bercermin tentang apa yang saya lakukan selama ini. Sebagai anak maupun sebagai orang tua. Sebagai anak, sudahkah saya mengedepankan ketaatan kepada orang tua karena Allah. Sudahkah apa yang saya lakukan adalah ikhtiar sebagai anak yang ingin menjadikan orang tuanya layak duduk di kursi ridhanya Allah.
Sementara sebagai orang tua, sudahkah saya membuka ruang komunikasi dengan anak untuk mendiskusikan segala kepentingan kita sebagai orang tua dalam rangka mendidik anak. Dalam soal ibadah misalnya, apakah saya selama ini telah memberi kesempatan bertanya kepada anak-anak say dan memberikan jawaban dengan kesabaran atas setiap hal yang belum mampu mereka pahami.
Dengan kondisi masih tertatih-tatih, saya merasakan ini merupakan ibrah atau pelajaran luar biasa dari dialog hebat manusia pilihan Allah dan puteranya.
Birmingham, 06.07.15
Al Faqir Ibnu Sabil
Komentar