Langsung ke konten utama

Ramadhan di Negeri Orang (9)

Cerita di Awal Ramadhan Tahun Lalu                                                                                                   

Ramadhan telah memasuki pertengahan, tetapi cerita ini berbelok ke awal bulan puasa. Bukan sekarang, tetapi Ramadhan tahun kemarin. Tepatnya satu Ramadhan. 

Birmingham menjelang pertangahan malam. Kira-kira setengah enam pagi waktu Jombang. Tiba-tiba ponsel saya berdering. Yang muncul nama kemenakan saya. Setelah saya angkat, berita itu pun datang. Bapak saya, di usianya 93 tahun, melepaskan segala kontraknya dengan kehidupan dunia.

Saya tidak bisa berkata apa-apa. Mata mulai menggenang. Istri saya yang tanggap mulai menenangkan. Kakak yang di Surabaya, ketika saya telepon, juga mencoba menenangkan hati saya, "Sudah nggak papa... Tidak usah pulang. Bapak sudah cukup senang minggu kemarin sampean bisa pulang."

Betul. Seminggu sebelumnya, Allah memberi kesempatan menengok bapak saya. Tiga harian saya sempat menemani beliau di rumah sakit. Sedapatnya saya lakukan apa saja untuknya, mulai sekadar mengelus tangan sampai mengganti diapers. Dan itu masih jauh belum ada apa-apanya dibandingkan kakak-kakak saya yang selama ini sabar merawatnya.  Sehari sebelum balik ke Birmingham, bapak sudah boleh dirawat jalan, dengan kondisi lebih baik.

Sepanjang menemani di kamar inap, ada satu kalimat bapak saya yang masih terngiang-ngiang sampai sekarang: "Aku wis seneng saiki, awakmu muleh. Lek aku mati sak iki, atiku wis seneng."

Kalimat ini sedikit menghibur saya. Tetapi di sebaliknya, itu menambah rasa bersalah saya, yang selama ini paling jarang menyambangi  kedua orang tua. Saya hanya bisa bertameng dengan posisi yang jauh. Tapi itu tidak cukup untuk mengubur rasa bersalah saya.

Begitulah, ketika seminggu kemudian, bapak benar-benar meninggalkan kami, saya merasakan situasi kritis terakhirnya sehingga membawanya ke rumah sakit, adalah cara Allah memanggil hati saya untuk pulang menjenguk. Inilah adalah bagian dari skenarionya agar saya tidak didera rasa bersalah sebelum ajal datang menjemputnya. Bagaimanapun, ketika meninggalkan rumah sakit, saya saat itu masih optimis dengan kondisi bapak. Inilah yang saya syukuri.

(saat kangen, saya pernah menulis singkat kisah bapak saya, seperti bisa di baca di sini: http://www.kompasiana.com/rujakcingurdaribraggroad/nikmatnya-masa-tua-kakek-buta-huruf-92-tahun-ini_552cb7266ea83435658b457d)

Birmingham, 01.07.15
Al Faqir Ibnu Sabil

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Membuat Kohor / Cohort di Moodle untuk Mempermudah Pengeloaan User

  Membuat Kohor / Cohort Klik Administrasi situs > Pengguna > Akun > Kohor > Tambah kohor baru Ketik nama kohor. Contoh “ kelas 9” Geser ke bawah dan klik tombol simpan perubahan Untuk menambahkan user ke dalam kohor, Klik ikon gambar orang-orang Pilih peserta dan klik tomboh tambahkan Klik tombol  Kembali ke Kohor  dan pastikan isi kohor sudah sesuai dengan jumlah peserta yang kita tambahkan

Aplikasi Rekam Layar dan Kamera Sekaligus

Awal bulan Juli 2024, saya tertarik untuk mengikuti sebuah tantangan di Instagram. Tantangannya adalah membacakan cerita anak selama 8 hari. Pembacaan cerita secara nyaring ini diminta untuk direkam dan diunggah di Instagram. Maka saya pun kembali utak-utek Instagram dan aplikasi-aplikasi perekam dan multimedia. Semula saya menggunakan laptop beserta webcam-nya. Pertama kami unduh buku ceritanya agar lebih lancar saat dibaca (tanpa loading). Setelah nyoba aplikasi perekam yang sudah terpasang di laptop akhirnya saya putuskan untuk menggunakan perekam video online. Saya menggunakan https://webcamera.io/id/ dan mengunduh hasilnya. Karena hasilnya masih berupa file .webm maka saya ubah menjadi file .mp4 dengan aplikasi VLC Media Player. Ohya laptop yang saya pakai bersistem operasi Ubuntu. Semula saya ingin mengedit video tersebut dengan aplikasi kdenlive yang sudah terpasang di mini pc. Maka saya kirim file video tersebut lewat Google Foto. Tapi saya tidak jadi mengedit dan langsung meng...

Cara Cepat Input Data di LibreOffice Calc

Memasukkan, mengetik, menginput atau mengentry data kadang terasa menjemukan dan melelahkan. Untuk meringankan beban pekerjaan input data, libreoffice Calc menyediakan beberapa tool atau alat. 1. AutoInput Tool Tool ini biasanya sudah aktif. Bila belum aktif, Anda dapat mengaktifkannya dengan klik menu Tools > pastikan AutoInput tercentang. AutoInput akan mengingat dan merekam data yang sudah pernah kita masukkan. AutoInput akan secara otomatis melengkapi huruf atau karakter yang kita ketik sesuai dengan data yang sudah ada pada sel lain dalam kolom yang sama. Misalnya kita pada saat memasukan data alamat, biasanya kita menemukan beberapa orang mempunyai alamat yang sama. Bila sudah ada data 'Jawa Barat' pada kolom alamat maka ketika kita mengetik huruf 'J', secara otomatis dilengkapi menjadi 'Jawa Barat'. Bila setuju, tekan enter atau F2 atau klik mouse. Bila ternyata kita ingin mengetik 'Jawa Tengah', ketik huruf 'J' kemudian t...