Cerita di Awal Ramadhan Tahun Lalu
Ramadhan telah memasuki pertengahan, tetapi cerita ini berbelok ke awal bulan puasa. Bukan sekarang, tetapi Ramadhan tahun kemarin. Tepatnya satu Ramadhan.
Birmingham menjelang pertangahan malam. Kira-kira setengah enam pagi waktu Jombang. Tiba-tiba ponsel saya berdering. Yang muncul nama kemenakan saya. Setelah saya angkat, berita itu pun datang. Bapak saya, di usianya 93 tahun, melepaskan segala kontraknya dengan kehidupan dunia.
Saya tidak bisa berkata apa-apa. Mata mulai menggenang. Istri saya yang tanggap mulai menenangkan. Kakak yang di Surabaya, ketika saya telepon, juga mencoba menenangkan hati saya, "Sudah nggak papa... Tidak usah pulang. Bapak sudah cukup senang minggu kemarin sampean bisa pulang."
Betul. Seminggu sebelumnya, Allah memberi kesempatan menengok bapak saya. Tiga harian saya sempat menemani beliau di rumah sakit. Sedapatnya saya lakukan apa saja untuknya, mulai sekadar mengelus tangan sampai mengganti diapers. Dan itu masih jauh belum ada apa-apanya dibandingkan kakak-kakak saya yang selama ini sabar merawatnya. Sehari sebelum balik ke Birmingham, bapak sudah boleh dirawat jalan, dengan kondisi lebih baik.
Sepanjang menemani di kamar inap, ada satu kalimat bapak saya yang masih terngiang-ngiang sampai sekarang: "Aku wis seneng saiki, awakmu muleh. Lek aku mati sak iki, atiku wis seneng."
Kalimat ini sedikit menghibur saya. Tetapi di sebaliknya, itu menambah rasa bersalah saya, yang selama ini paling jarang menyambangi kedua orang tua. Saya hanya bisa bertameng dengan posisi yang jauh. Tapi itu tidak cukup untuk mengubur rasa bersalah saya.
Begitulah, ketika seminggu kemudian, bapak benar-benar meninggalkan kami, saya merasakan situasi kritis terakhirnya sehingga membawanya ke rumah sakit, adalah cara Allah memanggil hati saya untuk pulang menjenguk. Inilah adalah bagian dari skenarionya agar saya tidak didera rasa bersalah sebelum ajal datang menjemputnya. Bagaimanapun, ketika meninggalkan rumah sakit, saya saat itu masih optimis dengan kondisi bapak. Inilah yang saya syukuri.
(saat kangen, saya pernah menulis singkat kisah bapak saya, seperti bisa di baca di sini: http://www.kompasiana.com/rujakcingurdaribraggroad/nikmatnya-masa-tua-kakek-buta-huruf-92-tahun-ini_552cb7266ea83435658b457d)
Birmingham, 01.07.15
Al Faqir Ibnu Sabil
Komentar