8/12/2015

Merekonstruksi Kaderisasi Agar Lebih Berisi

Merekonstruksi Kaderisasi Agar Lebih Berisi
(Selasa, 11/08/2015 20:03)

Oleh Ahmad Saifuddin
Beberapa waktu lalu, telah diadakan Musyawarah Kaum Muda NU yang berbarengan dengan agenda Muktamar ke-33 Nahdlatul Ulama di Jombang. Acara Musyawarah Besar Kaum Muda NU yang digelar pada tepat pada tanggal 2 Agustus 2015 sampai dengan 3 Agustus 2015 tersebut diadakan di Universitas Wahab Hasbullah Tambakberas Jombang, dengan mengambil berbagai tema untuk dirembug menjadi action plan. Beberapa tema tersebut misalkan mengenai aktualisasi nilai-nilai Ahlussunnah wal Jama’ah dalam kebangsaan, aktualisasi Khithah NU 1926, kaderisasi di dalam tubuh NU, persoalan kualitas pendidikan di Indonesia dan upaya NU dalam meningkatkan kualitas sistem pendidikan formalnya, permasalahan bonus demografi, permasalahan wanita, menangkal paham Islam radikal melalui media elektronik dan media massa, dan permasalahan pembangunan.

Dalam tulisan ini, hanya akan dibahas mengenai salah satu tema tersebut, yaitu mengenai masalah kaderisasi. Permasalahan kaderisasi seolah menjadi persoalan yang tiada ujungnya. Terlebih lagi Nahdlatul Ulama memiliki pengikut sekitar 51 juta sampai 60 juta sehingga menobatkannya menjadi organisasi paling besar di Indonesia. Sumber daya manusia yang sangat melimpah ruah tersebut senantias amenajdi pekerjaan rumah bagi Nahdlatul Ulama untuk memberdayakannya mengingat Nahdlatul Ulama bukan hanya sebagai jama’ah (kumpulan), tetapi juga sebagai jam’iyyah (organisasi).

Kaderisasi dalam Nahdlatul Ulama pun sudah diatur oleh masing-masing badan otonomnya. Misalkan, dalam IPNU-IPPNU terdapat Masa Kesetiaan Anggota (Makesta), Latihan Kader Muda (Lakmud), Latihan Kader Utama (Lakut), Latihan Fasilitator (Latfas), Latihan Pelatih (Latpel); dalam CBP dan KPP terdapat Pendidikan dan Latihan Pertama (Diklatama) serta Pendidikan dan Latihan Madya (Diklatmad); dalam GP Ansor dan Fatayat NU terdapat Pelatihan Kepemimpinan Dasar (PKD); dalam Banser terdapat Pendidikan dan Latihan Dasar (Diklatsar), Kursus Banser Lanjutan (Susbalan), Kursus Banser Pimpinan (Susbanpim), Kursus Banser Pelatih (Suspelat), dan Pendidikan Latihan Kejuruan (Diklatjur). Tidak hanya itu, Nahdlatul Ulama pun beberapa waktu terakhir memiliki program prioritas kaderisasi, yaitu Kader Penggerak Ranting. 

Kaderisasi seperti ini diatur karena memiliki beberapa tujuan penting. Pertama, kaderisasi merupakan keniscayaan karena proses pelatihan akan membuahkan pengetahuan dan wawasan yang komprehensif. Semakin dini seorang warga Nahdlatul Ulama dikader dan dilatih, maka semakin dini pula mereka mengetahui tentang bangsa, Ahlussunnah wal Jama’ah dan Nahdlatul Ulama dan akhirnya semakin banyak wawasan yang diserapnya dalam rentang kehidupan yang lebih lama. Dengan demikian, proses kaderisasi yang dilakukan secara berjenjang, terstruktur dan sistematis akan menghasilkan kader yang berwawasan intelektual, baik wawasan ke-NU-an, wawasan Aswaja, wawasan sosial, wawasan politik, maupun wawasan kebangsaan.

Kedua, proses pelatihan dalam rangka kaderisasi dapat menumbuhkan militansi. Terlebih lagi jika proses pelatihan kaderisasi tersebut dilaksanakan sedini mungkin, misalkan ketika masa anak-anak dan remaja. Ketika masa remaja ini, setiap orang ingin mencari identitas dirinya sehingga perlu disiapkan dengan baik. Salah satunya dengan cara kaderisasi dengan pelatihan yang menyenangkan dan menarik sehingga proses internalisasi nilai pun akan berlangsung secara maksimal. Pada akhirnya, sense of belonging dan militansi terhadap Nahdlatul Ulama pun akan mengakar kuat. Militansi ini pun menjadi modal kuat untuk menumbuhkan semangat yang membara, pantang menyerah, loyalitas yang tinggi, kepedulian yang besar, sikap mempertahankan yang hebat, dan profesionalitas yang berkualitas.

Ketiga, proses kaderisasi akan menumbuhkan rasa kekeluargaan dan kebersamaan yang tinggi. Dalam setiap proses kaderisasi selalu menekankan kebersamaan dan perasaan senasib. Hal ini didasarkan atas persamaan identitas. Ketika proses kaderisasi dilakukan secara teratur, kontinyu, terstruktur dan sistematis, maka rasa kebersamaan tersebut akan tinggi. Pada akhirnya, kohesivitas organisasi akan tinggi dan tidak ada egoisme. Selain itu, juga tidak akan ada penyalahgunaan wewenang dan organisasi.

Keempat, proses kaderisasi yang berjenjang dan teratur yang diprakarsai oleh pengurus, akan memunculkan rasa saling mengenal dan menghormati. Hal ini yang menyebabkan mata rantai dan genealogi pemikiran dan organisasi antar generasi dalam Nahdlatul Ulama dan badan otonomnya tetap terjaga. Lebih penting lagi bahwa saling mengenal tersebut bertujuan untuk menumbuhkan rasa kebersamaan dan saling menghormati, yang pada akhirnya etika internal organisasi pun tercipta. Jika etika internal organisasi tercipta, maka etika terhadap eksternal organisasi pun akan mengikuti. Etika ini penting karena dalam tradisi Nahdlatul Ulama, dikenal tentang adab dan etika yang merupakan suatu komponen dalam menumbuhkan moderatisme berorganisasi. Ketika etika sudah tercipta, maka “junior” tidak merasa digurui dan dapat bersikap santun, begitu juga “senior” tidak akan menggurui dan dapat bersikap menyayangi.

Dengan demikian, kaderisasi bukan hanya suatu proses untuk mencari kader sebanyak-banyaknya, tetapi juga merupakan suatu proses pembelajaran dan penempaan diri, etik, dan intelektualitas sehingga kaderisasi dapat membuahkan kualitas yang maksimal. Sedemikian pentingnya, kaderisasi ini menjadi tema yang paling dinikmati, termasuk dalam event Musyawarah Kaum Muda NU tersebut. Dalam acara tersebut, banyak kaum muda NU yang menyampaikan keluhannya, misalkan adanya beberapa pengurus NU yang tidak paham badan otonom NU, adanya oknum NU yang hanya menggunakan NU sebagai tunggangan politik, adanya pengurus NU yang kurang militan, kebingungan mengenai mekanisme dan teknis pasca kaderisasi, tidak adanya prinsip the right man on the right place, kurang sinerginya beberapa badan otonom-lembaga-lajnah dalam proses kaderisasi, yang kesemuanya itu bermuara pada satu hal, yaitu belum maksimalnya proses kaderisasi dalam tubuh NU. Maka tak heran, dalam event Musyawarah Besar Kaum Muda NU tersebut menghasilkan beberapa rekomendasi untuk memperbaiki kaderisasi. Misalkan, menambahkan persyaratan pengurus NU harus sudah melaksanakan beberapa jenjang kaderisasi badan otonom, bukan hanya “sudah aktif di NU sekurang-kurangnya dua atau tiga tahun”.

Rekonstruksi kaderisasi ini pun menjadi action plan yang penting. Ke depan, setiap badan otonom harus berlomba dalam merapikan dan merestrukturisasi proses kaderisasi ini lagi. Terlebih lagi, sebelum mencapai Nahdlatul Ulama, dalam setiap badan otonom terdapat pembatasan usia. Nahdlatul Ulama pun dituntut untuk memberdayakan human recources yang dimilikinya dengan proses kaderisasi melalui badan otonomnya, tentu saja dengan proses kaderisasi yang grounded, benar-benar dari bawah, terstruktur, berjenjang, sistematis, dan kontinyu. Maka dari itu, kesadaran berorganisasi pada warga Nahdlatul ‘Ulama harus semakin dipupuk, agar dapat mendorong dirinya sendiri atau bahkan putra putrinya dan saudaranya untuk meneruskan estafet perjuangan Nahdlatul Ulama dengan berorganisasi Nahdlatul Ulama. Selain itu, sinergitas Nahdlatul ‘Ulama dengan badan otonom juga penting dalam proses kaderisasi, misalkan Rabithah al-Ma’ahid al-Islamiyah (RMI) membantu pendirian komisariat IPNU IPPNU di pesantren, Lembaga Pendidikan Ma’arif mmebantu pendirian komisariat IPNU IPPNU di sekolah-sekolah, sehingga proses kaderisasi berjalan tidak hanya pada lingkup badan otonom saja, namun juga pada lingkup lembaga dan lajnah NU. Pasca kaderisasi pun juga penting, bahwa setiap kader yang dihasilkan, segera untuk diikutsertakan dan dididik dalam berorganisasi dan berkegiatan agar tidak lepas. Dengan demikian, kontinuitas dan kesinambungan proses kaderisasi tersebut tidak hanya menghasilkan kader yang berkuantitas, namun juga berkualitas dalam kesantunan, moderatisme, genealogi pemikiran, militansi, sense of belonging, pantang menyerah, keluasan dan keluwesan wawasan.

* Wakil Sekretaris PW IPNU Jawa Tengah, Sekretaris Lakpesdam PCNU Klaten)

Lihat Komentar

Artikel terkait:
Ke(tidak)jelasan PB-PMII (Senin, 10/08/2015 02:00)
Menyoal Reposisi Gerakan PMII (Ahad, 31/05/2015 07:26)
Sistem Kaderisasi KH Ali Maksum (Rabu, 13/05/2015 11:05)
Peran NU dalam Menangkal Radikalisme (Rabu, 25/03/2015 07:02)
Refleksi Harlah Ke-61: Idealisme IPNU Memudar? (Kamis, 26/02/2015 09:01)

Post a Comment

Yang Sering Dibaca