3/31/2018

Faiq dan LOCI

Faiq dan LOCI.html

Faiq dan LOCI

sebuah catatan perjalanan


Rangkaian acara “LibreOffice Conference.ID” dimulai dengan lokakarya pada hari Jum’at, 23 Maret 2018 tapi saya masih Demak. Jum’at siang itu saya duduk di samping pak Huda di dalam suatu alua pertemuan di kota Demak. Kami baru saja istirahat, sholat Jumat dan makan siang dan sedang menunggu sesi terakhir dari suatu acara dinas bersama kepala-kepala MTs seDemak. Semula saya memang berencana berangkat ke Surabaya dengan naik kereta api bersama keluarga. Karena beberapa pertimbangan, sampai H-1 saya belum berani memesan tiket kereta api. Sebagai alternatif, saya berencana naik bus entah dari Demak atau Jepara atau Pecangaan. Setelah ngobrol dengan saudara lewat ponsel, siang itu melalui aplikasi di ponsel, saya memesan satu tiket kereta api jurusan stasiun Pasar Turi Surabaya. Pak Huda dengan baik hati membantu pembayaran tiket tersebut lewat ponsel beliau. Terima kasih, Pak Huda.
Sekitar pukul 2 siang saya pulang dari Demak ke desa Tedunan. Ada dua oleh-oleh acara di Demak tersebut yang dapat saya manfaatkan untuk perjalanan ke Surabaya; tas gendong dan amplop berisi uang. Alhamdulillah. Adzan Ashar sudah berkumandang ketia saya di rumah. Tas baru segera saya isi dengan beberapa pakaian, laptop dan perelengkapan lain yang akan saya bawa ke Surabaya. Anak-anak juga saya minta segera mandi dan mengemasi seragam sekolah hari Sabtu untuk dibawa ke rumah di nenek. Saya berangkat ke Surabaya setelah mengantar anak-anak dan isteri ke rumah mertua di Kedung, Jepara. Dari Kedung saya bersepeda motor menuju terminal Pecangaan untuk naik bus jurusan Semarang. Kereta saya berangkat jam 09 malam. Masih ada waktu cukup panjang. Tapi cukup khawatir bila bus tidak kunjung datang atau ada kemacetan di perjalanan sehingga saya akan ketinggalan kereta lagi. Dulu saya pernah ketinggalan kereta ketika hendak berangkat ke Bojong bersama pak Sokibi. Saya sangat khawatir hal seperti itu terjadi lagi.
Untung perjalanan ke Semarang cukup lancar. Lepas Maghrib, saya sudah sampai di daerah Terboyo. Selanjutnya saya naik ojek online menuju stasiun Tawang. Sesampainya di stasiun Tawang saya segera mencetak tiket, makan malam dan sembahyang. Selanjutnya saya berencana membuka laptop di ruang tunggu dan melanjutkan penataan bahan presentasi untuk esok pagi. Rasa kantuk dan rikuh membuat saya hanya duduk diam di samping tempat pengisian daya ponsel, menunggu jadwal keberangkatan kereta Kerta Jaya.
Untung kereta tidak terlambat datang. Sayang ingin segera naik kereta dan berencana membuka laptop dan menyelesaikan presentasi sebelum tidur. Sebenarnya bahan presentasi dalam bahasa Inggris sudah saya lembur pada malam Jum’at. Mennyiapkan presentasi dalam bahasa Inggris merupakan pengalaman pertama bagi saya. Untung BlankOn Tambora sudah saya lengkapi dengan Stardict dan LibreOffice dilengkapi dengan fitur chek spelling and grammar. Ternyata saya tidak bisa membuka laptop di dalam kereta. Dua stop kontak sudah dipakai mengisi daya ponsel oleh penumpang yang lain sehingga saya tidak mungkin membuka laptop yang sudah habis baterainya.
Kereta berangkat dari Semarang sekitar pukul sembilan malam dan saya turun di stasiun Pasar Turi Surabaya hampir jam 2 dini hari. Rasa kantuk sudah lumayan berkurang. Mungkin selama perjalanan, saya sudah berkali-kali tertidur. Keluar dari stasiun, saya langsung diantar keponakan ke Rangkah untuk mandi dan istirahat. Sehabis mandi saya tidak berani tidur sebelum menyelesaikan berkas presentasi. Alhamdulillah berkas presentasi.odb bisa saya kirim ke panitia menjelang pukul empat fajar. Walau berkas presentasi sudah selesai dan sudah saya kirim, saya tetap tidak berani tidur, takut bangun kesiangan.
Setelah sarapan, sekitar pukul setengah delapan pagi saya naik ojek online menuju kampus PENS. Pagi itu saya bersama teman-teman pengembang BlankOn, Ridon dan Sepatu Fans menyiapkan booth pameran. Rasa deg-degan saya sebagai pemateri pemula pagi itu sementara hilang. Hal ini mungkin karena adanya rasa senang bisa bertemu dan asyik ngobrol serta bercanda bersama teman-teman yang selama ini berkomunikasi lewat media sosial terutama Telegram. Rasa deg-degan itu muncul kembali saat panitia menjemput dan mengantar saya dari booth menuju ruang kelas tempat saya akan presentasi. Beruntung panitianya sangat ramah dan santun.
Saya tidak mengira, ternyata kursi dalam ruang kelas tersebut akhirnya penuh oleh peserta bahkan ada peserta yang terpaksa mengikuti kelas “Pemanfaatan LibreOffice Pada Lembaga Pendidikan, Sebuah Pengalaman” sambil berdiri. Materi yang saya sampaikan hanyalah cerita tentang pengalaman saya dalam menggunakan LibreOffice di MTs Irsyaduth Thullab Tedunan, Wedung, Demak. Tentang LibreOffice, saya yakin para peserta lebih pintar daripada saya. Saya hanyalah orang ndeso, dari desa Tedunan, Wedung, Jawa Tengah, Indonesia. Saya hanyalah guru TIK di sekolah swasta, MTs Irsyaduth Thullab.
Awalnya saya mencoba memasang OpenOffice dari CD majalah Info Linux. Selanjutnya saya menggunakan LibreOffice yang terpasang pada BlankOn. Pada peserta saya ceritakan bahwa kami di MTs Irsyaduth Thullab menggunakan LibreOffice untuk membuat berkas-berkas perkantoran, majalah pelajar, mail merger, laporan keuangan, raport/LHB, dll.
Dengan konferensi LibreOffice ini saya berharap kita bukan hanya menjadi pengguna apalagi tukang salin-tempel atau save as. Mari kita buat berkas-berkas yang dibutuhkan masyarakat dengan LibreOffice. Mari kita tingkatkan sosialisasi dan pendampingan > Pengguna semakin banyak > Komunitas semakin banyak > Pengguna baru lebih mudah mencari bantuan > LibreOffice lebih populer. Bagi saya, hidup hanya sebentar. Mari kita bersama-sama membuat LibreOffice lebih baik, Mari kita kenalkan LibreOffice para pelajar sedini mungkin.
Setelah sesi tanya jawab sebentar, ternyata sudah 30 menit dan saatnya istirahat serta makan siang. Setelah istirahat, saya sempat ikut sesi berikutnya yang disampaikan dalam bahasa Inggris. Saya jadi merasa sangat bodoh. Banyak kalimat yang tidak bisa saya pahami. Acara yang tidak kalah seru adalah acara makan malam bersama para pemateri dan panitia. Ada beberapa kali acara makan malam tapi sayangnya saya hanya bisa ikut sekali yaitu pada hari Sabtu malam Minggu. Terima kasih sudah ditraktir. Sehabis makan malam saya ikut kembali ke tempat penginapan teman-teman BlankOn. Walau ada rumah saudara di Surabaya, malam itu saya memilih menginap bersama teman-teman. Saya pikir, sayang sekali bila tidak ngumpul dan ngobrol bersama. mumpung ketemu..... Minggu, 25 Maret adalah hari terakhir dari serangkaian acara LOCI. Saya tidak bisa mengikuti semua sesi dan sampai akhir acara. Di antara sesi yang saya ikuti adalah sesinya Andanda, siswi kelas dua SMK yang bercerita tentang komunitas SAGOS dan sesinya Kelimuttu. itu dulu ceritanya. semoga bisa saya sambung lain waktu.

Terima kasih.
Post a Comment

Yang Sering Dibaca