8/10/2015

Humor Waria

Seorang penyair terkenal krn syair2 puisinya pulang kampung dari merantau.
Di pinggir sebuah jembatan sungai yg airnya deras, dia melihat seorang Wanita muda cantik sedang terisak menangis.

Sang penyair mulai melancarkan jurus syair mautnya : “Duhai wanita idaman, sedang apakah gerangan dinda berdiri di sini ?"

Wanita (ketus) : "Jangan cegah saya ! Saya mau bunuh diri !"

Penyair : “Baiklah, kanda tidak akan mencegah, namun sudilah berikan kecupan dinda yg terakhir sebagai kenangan”

Tanpa ragu sang wanita muda menghampiri Penyair, dan memberikan kecupan yg sangat mesra dan bergairah di bibirnya, dan penyair pun membalas ciuman sang wanita . . .

Setelah sekian lama mereka berciuman sang penyair pun bertanya kembali.
Penyair : “Dinda, sungguh lembut nan nikmatnya kecupanmu. Satu hal yang kanda mau tanya, kenapa dinda mau bunuh diri ?”

Sambil ter-isak2 dalam tangis si wanita moeda  menjawab : “Hidup saya sudah tidak berarti Bang. Kedua orang tua saya melarang saya berdandan seperti wanita . . . hiks . . . hiks .”

Penyair : Ha . . Kampreet  Gilaa..loo..nazisss...Banciiii nih . . .��������
Kiriman Gus Adib

Post a Comment

Yang Sering Dibaca